Pages

Selasa, 07 Juli 2015

Resensi Buku, 'I Ordered My Wife From The Universe'


Buku setebal 326 halaman itu tergeletak begitu saja di samping saya. Rasa kantuk langsung membawa saya terlelap sesaat setelah halaman terakhir itu saya baca. Sudah 3 malam saya habiskan untuk menikmati lembar demi lembar novel yang saya beli minggu lalu itu. Saya masih ingat, membaca judulnya saja sudah membuat mata saya langsung menyipit, apalagi membaca isinya. Begitu pula dengan kemasan buku dan covernya, sungguh menarik. Nama penulisnya juga keren. Stanley Dirgapradja, seorang konsultan kreatif di perusahaan digital media dan chief editor di portal Men Style Indonesia yang sekarang tinggal di Jakarta.

Tentang Hati dan Rasa


Aku tak tahu lagi harus menumpahkan semua perasaan ini ke siapa. Semuanya begitu menyesakkan dada. Seluruh elemennya serba absurd, fiksi. Cetak biru yang pernah kutorehkan seakan tak berarti apapun di hadapan sang pembunuh karakter. Semua bayangan itu nampak jelas, terukir besar di menara langit. Dan tiap kali kumendongak untuk sekedar menengok saja, maka gambaran itu akan kembali muncul dan dengan sekejap mata akan menukik ke bawah mencoba membunuhku kembali perlahan-lahan.

Senin, 06 Juli 2015

Indonesia Menjadi Tamu Kehormatan di Pameran Buku Jerman, Senang atau Sedih?



Sedikit kebanggaan muncul dari dalam sini (menunjuk dada) ketika semalam saya membaca sebuah esai Goenawan Muhammad di harian Jawa Pos tentang persiapan Indonesia menjadi Guest of Honour di Frankfurt Book Fair yang akan digelar selama nyaris satu minggu yaitu tanggal 13-18 Oktober nanti. Senang juga ketika tahu beberapa novelis jagoan tanah air berada di line up. Sebut saja Ahmad Tohari, Laksmi Pamuntjak, Andrea Hirata, Ayu Utami, atau Dewi Lestari. Mereka adalah para tamu kehormatan yang nantinya akan mewakili wajah kesusastraan Indonesia. Menurut mbak Feby Indira yang juga anggota Komite Nasional, ada sekitar 70 penulis yang siap berangkat Oktober nanti.

Sabtu, 04 Juli 2015

Tentang Hari Ini

Hari ini hari Sabtu. Yah, hari dimana orang-orang akan merayakan akhir pekan. Namun bagi saya, hari ini masih sama seperti hari lainnya. Selalu sibuk. Seharian ini saya dan beberapa rekan di tempat kerja harus sedikit berkeringat karena kantor baru telah siap untuk di huni. Kami saling mengusung file dan mengangkat beberapa barang-barang ke kantor sebelah yang baru. Sedikit lebih luas sih, walau jendelanya begitu terbuka mengingat kaca-kaca itu selalu dibiarkan bertelanjang tanpa sehelai gordenpun. Mejaku sendiri berada di sebelah monitor CCTV dan bersebelahan dengan meja komputer. Saya kemudian berfikir, sedikit saja saya bergerak maju mundur, pasti sudah bakal bonyok kepala ini kejatuhan monitor-monitor itu. Jojo, menemani saya di samping kiri dengan mejanya. Rekan baru saya itu, rencananya akan saya beri sedikit keberanian agar mau mendekati wanita. He he ....

Jumat, 03 Juli 2015

Bijak Berdakwah

Di hari Jum'at ini, seperti biasa saya hanya bekerja setengah hari. Saya pulang pukul 11.00 dan langsung pulang untuk kemudian bersiap melakukan shalat Jum'at di masjid sebelah. Acara shalat Jum'at berlangsung lancar tanpa kendala berarti. Semuanya baik-baik saja ketika kemudian mata saya tertuju pada selembar kertas putih, sebuah buletin 4 halaman, jurnal dakwah sebuah lembaga yang sudah sangat sangat lama sekali tidak saya baca.

Kamis, 02 Juli 2015

Asa Semesta

Sudah lama gak berpuisi. So I think I deserve a shot of trial on this. Let me know what you think.



Pena hitam mengukir malam
Mengasah tajam lidah langit
Cerah mega yang kian buram bercahaya
Menopang langit mencipta ceruk
Nyanyi suara alam tanpa aksara
Saling menggamit berkelindan mengisi sarwa
Anak anak malam lintang pukang merekuh angkuh
Sumbang terdengar lolongan serigala liar menyalak

Sabtu, 27 Juni 2015

Aku dan Piano

Music is in my blood. Itu yang selalu saya katakan kepada mereka yang kerap bertanya; kenapa saya begitu menggilai dunia musik. Saya kemudian berkata bahwa dengan bermusik saya telah berhasil membuat hidup ini lebih bergairah, hari hari saya terasa istimewa, dan perasaan ini selalu bergembira. Sejak kecil musik telah begitu lekat dengan kehidupan saya, walaupun orang tua dulu tak pernah mendukung, namun saya kemudian membuktikan bahwa musik memberikan saya segalanya. Kekuatan, cinta, sosial, ekonomi, popularitas, dan yang terpenting, keberanian. Itulah mengapa saya tak pernah menganak-tirikan alat musik. Saya pelajari semuanya; drum, piano, gitar, bass, biola, bahkan seruling. Saya lebih suka disebut musisi ketimbang penyebutan salah satu instrumen seperti drummer, atau pianis, gitaris atau yang lainnya. It sounds maturer.