Beberapa hari yang lalu, seorang teman meminjamiku buku fenomenal
yang saat ini paling dicari. Gelombang. Sekuel ke 5 dari seri Supernova
Dewi Lestari. Di tengah kesibukan yang tiada henti, membaca buku itu
seperti mereguk air kedamaian dari sebuah oase di tengah panasnya padang
pasir. Begitu menyegarkan. Sajian demi sajian yang tertuang dalam
tulisan Dee seolah menyadarkan kembali batin ini untuk terus menggali
alam bawah sadar yang penuh firasat, isyarat, mimpi, harapan,
halusinasi, fenomena, dan gelombang.
Sabtu, 24 Januari 2015
Sabtu, 06 Desember 2014
Seuntai Nada Buat Vee
Matahari masih tampak mengintip
di balik serangkaian awan. Sinarnya menyelinap dari balik dedaunan. Menyisir
setiap apa yang lewat di jalan itu. Sebuah jalan besar satu arah yang membawa
orang-orang menuju sebuah bangunan megah dengan tulisan besar, “Universitas Ciputra”.
Di pintu masuk itu banyak
mahasiswa yang lalu lalang. Beberapa tampak sedikit terburu-terburu. Ada juga
sepasang mahasiswa yang tengah berjalan santai bersama bergandengan tangan
sembari tertawa-tawa ringan. Di kawasan akademis yang menjulang tinggi itu,
sebuah bangunan yang tampak sedikit lebih ‘mewah’
berdiri tegak di tengahnya. “Fakultas
Magister Manajemen”. Seorang gadis tampak berjalan sedikit terburu-buru
menuju koridor kampus. Rambutnya tergerai lurus sepinggang. Mengenakan T-Shirt
dan blue-jeans sambil menenteng tas kecil di pundak kirinya. Kaca matanya tipis
memberikan kesan smart yang akan membuat siapapun meliriknya.
Jumat, 12 September 2014
Abstraksi Sebuah Rancangan
Mengapa air mengalir, mengapa hujan turun ke bumi, mengapa burung terbang di udara, mengapa jantung selalu berdenyut, mengapa manusia bernafas, mengapa Buddha selalu tersenyum, dan mengapa matahari selalu muncul tiap pagi? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan retoris yang pada dasarnya tidak membutuhkan jawaban. Padahal disinilah letak poros dari kehidupan itu terletak. Ya, itulah rancangan kehidupan yang setiap waktu dan setiap detik selalu berjalan sesuai dengan kodratnya tanpa pernah melawan.
Minggu, 17 Agustus 2014
Cinta Monyet
Namanya Grace. Lengkapnya Anastasya
Grace Widjaja. Aku bertemu dia belasan tahun silam. Tepatnya ketika aku
masih duduk di bangku kelas 6 SD. Tak jelas kenapa aku sering terpancing untuk
memperhatikannya kala itu. Bagi seorang anak bawang sepertiku, masih sulit
mengartikan kata suka atau simpatik. Yang kutau, melihatnya bermain kelereng
saja sudah membuatku senang. Kakakku bilang, waktu itu aku masih bocah monyet (u know, it’s a personal phrase yang
artinya kurang lebih; anak bau kencur yang sedang meraba-meraba makna suka.
Baca: cinta monyet). Masih tampak jelas, dia selalu berada di barisan paling
depan tiap kali jalan bareng gengnya. Dia yang paling sering bercerita
ketimbang mendengar cerita. Entah harus berapa kali teman-temannya itu
mendengar cerita fiksinya, tapi pernah sekali aku mencuri dengar dan kutau
bahwa satu kali duduk saja dia bisa bercerita 3 atau 4 fabel sekaligus.
Nampaknya dia memang berbakat menjadi pendongeng. Salah satu cerita favorit
karangannya adalah cerita tentang putri kerajaan yang dibuang oleh ibu tirinya
dan diselamatkan oleh segerombolan binatang. Ia tumbuh dan besar bersama
binatang itu hingga akhirnya bisa saling berkomunikasi. Akhir ceritanya adalah,
sang putri, dengan bantuan teman binatangnya,
menemukan cinta sejatinya, seorang pangeran tampan yang mengendarai kuda
putih. Setiap ceritanya selalu ada sisi magis. Iya, seperti aku yang selalu
terkena daya itu, terhipnotis oleh tiap kata-katanya, ceritanya, ah mungkin
lebih tepatnya suaranya.
Rabu, 26 Maret 2014
Efek Dekat
Sudah sejak Januari lalu saya selalu berangkat kerja bareng istri. Berita baiknya, dia kini resmi berdomisili di Semarang setelah beberapa waktu lalu penempatan di Bogor. Berita tidak bagusnya, saya semakin kesulitan mencari alasan meninggalkan rumah seenaknya lagi. Pasalnya, dia tau persis seperti apa kegiatanku di luar. Pada awalnya, saya menikmati kebersamaan ini. Apalagi kadang ada giliran jaga. Biasanya setelah 20 menit berkendara, aku minta dia yang di depan, jadi aku bisa sambil ngantuk-ngantuk bonceng di belakang. Begitu juga ketika ada operasi di jalan, cukup dia yang tersenyum pada pak polisi lalu kami sudah bisa berjalan kembali. Betapa menyenangkannya ada dia. Ketika lelahpun, kita biasanya mampir dulu di POM, shalat maghrib dulu, cuci muka gitu, dan yang terpenting apapun yang kuinginkan, hampir semua dikabulkannya. Yang dulu biasanya aku harus berhemat karena kemana-mana sendiri, sekarang dengannya, aku seperti berjalan dengan mesin ATM. Dulu paling banter aku hanya berani mampir nasi kucing atau warteg untuk sekedar makan malam. Tapi sekarang, aku bisa memilih aneka macam masakan kuliner yang tersedia. Kadang bakso, sate, soto ayam, penyet, gule, semur ayam, beef steak, dan banyak resep mahal lainnya. Tambah lagi, aku bisa kapan saja order sebungkus Sampoerna Mild tiap kali istriku masuk ke Indomaret. Dan dengan bangganya dia akan keluar toko seraya bilang; “Mas, ini aku sudah dapat rokokmu!”. Seolah-olah rokok itu didapat dari hasil rayuan hebatku supaya dapat surat ijin merokok darinya. Setidaknya, itu yang mungkin dipikirkan orang yang lalu lalang.
Badut-Badut Protokol
Menjelang Pemilu April ini, banyak sekali perubahan yang terjadi pada tata kota kita. Lokasi lokasi yang biasanya terlihat sehat, tiba-tiba nampak meriah, riuh, penuh dengan reklame dan foto sosok-sosok tak dikenal. Siapapun yang lewat jalur protokoler dan melihat foto-foto tersebut akan dengan spontan bertanya-tanya; “Alien dari mana ini. PeDe bener masang gigi di pinggir jalan begini...”. Pemandangan foto caleg, calon uleg, atau dalam istilah saya; 'badut-badut protokol' itu berjejer berderet-deret dengan rapinya, dengan manisnya, dengan segenap wajah gembira yang nampak agak dipaksakan dari tiap posenya itu, sebetu;nya lebih nampak seperti peserta lomba model ketimbang kontestasi calon legislatif Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyak nama-nama yang muncul, baik dengan atau tanpa gelar. Sebut saja Joice Triatman, Yayuk Basuki, Siti Hendriyanti, Bambang Sadono, Eko Waluyo, Sulistyo, Nur Solikhin, Saneman, Mulyadi, Slamet Trianto, Suloyo, Wagiyo, Paino, Rukimin, Satino, Paijem, dan nama-nama keren lainnya (maaf bila ada kesalahan penyebutan nama, itu semata-mata memang saya sengaja). Saking banyaknya, tiap kali berhenti di lampu bangjo, saya selalu berhitung, logo partai mana yang paling banyak tampil. Partai sapi, ataukah partai korupsi, partai Marcella Zalianty, ataukah partai banteng? Atau mungkin dari partai baru yang punya branding hewan lainnya?
Senin, 03 Maret 2014
Hikmah Rusak
Sudah sebulan lebih grendel dalam pintu utama rumah saya rusak. Untuk bisa membuka pintu ini, hanya bisa dilakukan dari luar karena kondisi grendel yang luar masih bagus. Itulah mengapa hampir tiap pagi saya harus lompat keluar dulu lewat jendela kamar baru bisa membuka pintu dari luar. Pada kondisi semacam itu, saya harus berjuang mati-matian menahan rasa malu ketika tiba-tiba ada orang lewat yang melintas di depan rumah dan melihat dengan wajah aneh aksi saya itu. Mungkin mereka pikir, ekspresi wajah saya lebih mirip maling ketimbang pemilik rumah. Namun seperti Tyson yang semakin dipukul semakin kuat, rasa malu itu justru makin menipis seiring menebalnya muka saya karena sikap cuek yang saya pilih.
Langganan:
Postingan (Atom)



