Tampilkan postingan dengan label filosofi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filosofi. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 April 2016
Dikotomi Hitam dan Putih
Ketika semuanya tiba-tiba berdebu, mengabu, maka yang senyap kemudian menjadi lenyap, dan yang gelap menjadi pekat. Hitam boleh jadi berarti gelap, namun hitam sebenarnya tak berwarna. Maka hitam bermakna bias. Sama dengan putih, yang berarti suci. Namun ia justru gampang bernoda. Yang jahat adalah hitam dan yang putih adalah baik. Jika dunia hanya tentang hitam dan putih, lantas mengapa harus ada warna.
Kamis, 06 Oktober 2011
Perjumpaan Ajaib
Membaca tulisan ini akan
memerlukan extra waktu, karena konten yang cukup panjang. Jangan
membaca sepotong-sepotong, karena ini bukanlah sinetron bersambung. Ini
adalah kisah nyata yang benar-benar saya alami. Tidak ada tendensi apapun
dalam penulisan ini. Hanya sekedar sharing dan mencoba membagi visi
tentang hikmah yang sudah kudapat darinya. Jika anda punya banyak waktu
duduk dan membacanya, silahkan, namun jika anda sedang tergesa-gesa,
maka sebaiknya lanjutkan membaca ini hingga nanti anda benar-benar free.
Mari...
Kamis, 10 Maret 2011
Puitisasi
Langit
Dimana langitku yang selama ini kukenang. Ia telah hilang. Langit yang selalu ada ketika dunia ini damai tanpa gemuruh suara alam yang menolak akan kebrutalan manusia. Alam ini menjerit pedih. Meraung-raung akan anarkisme dan vandalisme yang dilakukan manusia. Langit yang sekarang, hanyalah menjadi saksi bisu arogansi umat manusia yang selalu membuat kesewenang-wenangan di kaki langit ini. Ia terlalu agung untuk menyaksikan kenyataan ini. Terlalu hening untuk bersikap. Juga terlalu suci untuk berang. So, I want my sky. But, where is my sky, yang selalu memberiku ketenangan dan kedamaian saat aku melihatnya. Ternyata jiwaku kini tak mampu lagi untuk melihat indahnya langit, karena kotornya tempat yang aku singgahi ini.
Dimana langitku yang selama ini kukenang. Ia telah hilang. Langit yang selalu ada ketika dunia ini damai tanpa gemuruh suara alam yang menolak akan kebrutalan manusia. Alam ini menjerit pedih. Meraung-raung akan anarkisme dan vandalisme yang dilakukan manusia. Langit yang sekarang, hanyalah menjadi saksi bisu arogansi umat manusia yang selalu membuat kesewenang-wenangan di kaki langit ini. Ia terlalu agung untuk menyaksikan kenyataan ini. Terlalu hening untuk bersikap. Juga terlalu suci untuk berang. So, I want my sky. But, where is my sky, yang selalu memberiku ketenangan dan kedamaian saat aku melihatnya. Ternyata jiwaku kini tak mampu lagi untuk melihat indahnya langit, karena kotornya tempat yang aku singgahi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)

