Membaca tulisan ini akan
memerlukan extra waktu, karena konten yang cukup panjang. Jangan
membaca sepotong-sepotong, karena ini bukanlah sinetron bersambung. Ini
adalah kisah nyata yang benar-benar saya alami. Tidak ada tendensi apapun
dalam penulisan ini. Hanya sekedar sharing dan mencoba membagi visi
tentang hikmah yang sudah kudapat darinya. Jika anda punya banyak waktu
duduk dan membacanya, silahkan, namun jika anda sedang tergesa-gesa,
maka sebaiknya lanjutkan membaca ini hingga nanti anda benar-benar free.
Mari...
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Oktober 2011
Kamis, 10 Maret 2011
Abstraksi Sebuah Rancangan
Mengapa air mengalir, mengapa hujan turun ke bumi, mengapa burung terbang di udara, mengapa jantung selalu berdenyut, mengapa manusia bernafas, mengapa Buddha selalu tersenyum, dan mengapa matahari selalu muncul tiap pagi? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan retoris yang pada dasarnya tidak membutuhkan jawaban. Padahal disinilah letak poros dari kehidupan itu berada . Ya, itulah rancangan kehidupan yang setiap waktu dan setiap detik selalu berjalan sesuai dengan kodratnya tanpa pernah melawan.
Itulah realita yang dalam hal ini saya sebut sebagai kulit kehidupan (reality). Namun ada bagian yang lebih dalam dari kehidupan. Ia tidak nampak namun cenderung lebih terasa pengaruhnya dibanding dengan kulit kehidupan yang secara fisik nampak dengan sangat jelas dan nyata. Inilah yang oleh banyak filsuf, agamawan, dan ilmuwan disebut sebagai dunia batin (mind world). Bahkan banyak yang mengklaim bahwa apabila manusia dapat menguasai dan mengolah kebatinan mereka ini, maka dunia akan ada dalam genggaman. Tak ada lagi kesusahan dan kemalangan. Yang ada hanya perasaan bahagia dan nyaman saja. Sayangnya tesis ini masih bias, dan orang-orang yang mengaku telah melampaui proses kebatinan ini hanya berkata “Kalian tidak akan merasakan kebahagiaan yang kami rasakan apabila kalian belum melewati proses yang telah kami lewati”, begitu kira-kira argumen mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)

